Ivan Wirata Dorong Konektivitas Wilayah Barat Jambi lewat Jalan dan Bandara

Infodaily.id – Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, menyoroti sejumlah persoalan infrastruktur saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Bungo. Dalam pertemuan yang diterima langsung oleh Bupati Bungo Dedy Putra, pembahasan difokuskan pada kondisi jalan provinsi yang mengalami kerusakan berat serta pengembangan Bandara Muara Bungo.

Ivan Wirata mengatakan Kabupaten Bungo memiliki posisi strategis sebagai jalur lintas dan simpul perekonomian di wilayah barat Provinsi Jambi. Karena itu, menurut dia, kemajuan daerah tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kabupaten sekitar.

“Bungo merupakan kota lintas dan simpul ekonomi. Jika daerah ini berkembang, dampaknya juga akan dirasakan oleh wilayah sekitar seperti Tebo, Sarolangun, hingga Merangin,” kata Ivan Wirata.

Ia menambahkan, dalam dialog dengan Bupati Bungo, pemerintah daerah menyambut baik berbagai masukan terkait penguatan konektivitas dan pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut.

Dalam kunjungan tersebut, Ivan Wirata juga meninjau kondisi beberapa ruas jalan provinsi yang mengalami kerusakan berat dan dinilai berpotensi menghambat arus logistik serta mobilitas masyarakat.

Berdasarkan data teknis yang disampaikan, beberapa ruas prioritas yang membutuhkan penanganan antara lain:

BACA JUGA :  Gubernur Jambi Terima Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2025 dari KIP

Ruas Simpang Betung Bedarah – Batas Bungo (Kabupaten Tebo) dengan panjang kerusakan sekitar 14,9 kilometer dan kebutuhan anggaran sekitar Rp136,74 miliar.

Ruas Batas Tebo – Kuamang Kuning (Kabupaten Bungo) dengan kerusakan sekitar 14 kilometer dan estimasi anggaran Rp146,91 miliar.

Jalan Lingkar Muara Bungo, yang diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp36,02 miliar untuk menjaga kelancaran arus transportasi dan distribusi barang.

Ivan yang juga pernah menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi pada masa kepemimpinan Hasan Basri Agus mengatakan sejumlah segmen jalan provinsi di wilayah tersebut memang memerlukan percepatan penanganan.

Misalnya ruas Simpang Betung Bedarah – Simpang Pintas – Batas Kabupaten Tebo/Batas Kabupaten Bungo yang memiliki total panjang sekitar 27,5 kilometer, dengan kerusakan berat mencapai 14,9 kilometer. Sementara itu, ruas menuju Kuamang Kuning di wilayah Bungo memiliki panjang sekitar 47,57 kilometer dengan kerusakan berat sekitar 14 kilometer.

“Perbaikan ruas ini penting karena menjadi jalur utama distribusi barang dan mobilitas masyarakat antarwilayah,” ujar Ivan.

BACA JUGA :  Percepat Realisasi PI 10 Persen, Pansus Gelar Pertemuan dengan Bupati Tanjabbar, Ini Hasilnya!

Ia menilai kondisi jalan yang baik dapat menurunkan biaya logistik dan membuka peluang investasi di daerah.

“Kalau jalan lebih baik, biaya logistik bisa ditekan dan aktivitas ekonomi masyarakat juga lebih cepat berkembang,” katanya.

Selain infrastruktur jalan, Ivan juga menyoroti perlunya optimalisasi operasional Bandara Muara Bungo agar dapat meningkatkan konektivitas wilayah barat Jambi.

Menurut dia, salah satu tantangan utama bandara tersebut saat ini adalah terbatasnya maskapai dan frekuensi penerbangan.

Beberapa langkah yang dinilai dapat dilakukan antara lain perpanjangan landasan pacu dari sekitar 2.100 meter menjadi 2.250 hingga 2.400 meter agar dapat melayani pesawat jet berbadan sempit seperti Boeing 737-800 dan Airbus A320 dengan kapasitas penuh.

Selain itu, peningkatan fasilitas penerbangan malam melalui sistem pencahayaan landasan (airfield lighting system) serta navigasi modern juga dinilai penting agar bandara dapat melayani jadwal penerbangan yang lebih fleksibel.

Ivan juga mendorong adanya kompetisi maskapai penerbangan. Saat ini layanan penerbangan di bandara tersebut masih didominasi oleh NAM Air.

“Pemerintah daerah bisa mempertimbangkan skema insentif atau kerja sama tertentu untuk menarik maskapai lain agar harga tiket menjadi lebih kompetitif,” ujarnya.

BACA JUGA :  Wonderful Indonesia Award 2025, Gubernur Al Haris Raih Most Inspiring Tourism Leader

Menurut Ivan, pengembangan bandara juga perlu diikuti dengan integrasi transportasi antarmoda, seperti layanan bus atau transportasi resmi yang menghubungkan bandara dengan daerah sekitar, termasuk Tebo, Bangko, dan wilayah Dharmasraya di Sumatera Barat.

Ia juga menilai pembangunan fasilitas kargo dapat menjadi peluang baru bagi bandara tersebut mengingat potensi sektor perkebunan dan pertambangan di wilayah sekitar.

Selain itu, promosi sektor pariwisata dan kegiatan bisnis daerah juga perlu disinergikan dengan jadwal penerbangan guna meningkatkan jumlah penumpang.

Ivan menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur jalan dan pengembangan bandara harus berjalan secara paralel untuk memperkuat konektivitas wilayah.

Menurut dia, peningkatan akses transportasi darat dan udara di Bungo dapat memberikan dampak ekonomi bagi wilayah barat Provinsi Jambi.

“Ini bukan hanya soal Bungo, tetapi juga konektivitas kawasan. Jika akses transportasi membaik, daerah seperti Tebo, Sarolangun, Merangin hingga Dharmasraya juga akan ikut terdorong pertumbuhannya,” kata Ivan. (Adv)