Infodaily.id – Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, meninjau langsung pengelolaan Bandung Creative Hub di Kota Bandung, Jawa Barat. Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari konsep pengembangan ruang kreatif yang dinilai berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah tersebut.
Dalam kunjungan yang dilakukan di sela agenda kerjanya, Ivan mempelajari berbagai aspek pengelolaan creative hub, mulai dari model kelembagaan, pemanfaatan fasilitas publik, hingga pola kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media.
Menurut Ivan, konsep yang diterapkan Bandung Creative Hub dapat menjadi referensi dalam mengembangkan pusat kreatif di Provinsi Jambi.
“Bandung Creative Hub ini bukan sekadar gedung, tetapi ekosistem. Ada pembinaan, kolaborasi, dan ruang ekspresi bagi pelaku kreatif. Konsep seperti ini yang ingin kita adaptasi untuk Jambi,” ujar Ivan.
Dalam peninjauan tersebut, Ivan melihat langsung berbagai fasilitas yang tersedia di Bandung Creative Hub. Gedung ini menyediakan sejumlah ruang kreatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat, antara lain studio rekaman musik, studio tari dan seni pertunjukan, studio animasi dan multimedia, studio fesyen dan jahit, ruang pameran, perpustakaan, serta ruang kerja bersama (coworking space).
Perpustakaan di gedung tersebut juga memiliki lebih dari 12.000 koleksi buku yang dapat diakses oleh pelajar, mahasiswa, dan komunitas kreatif.
Seluruh fasilitas tersebut dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung dan dimanfaatkan oleh berbagai komunitas kreatif, pelajar, mahasiswa, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Meski dapat diakses publik, penggunaan fasilitas tetap melalui proses kurasi kegiatan dan persyaratan administratif, termasuk identitas pengguna yang berasal dari Kota Bandung.
Ivan menilai mekanisme tersebut menarik karena mampu menjaga kualitas kegiatan sekaligus tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk berkreasi.
Bandung Creative Hub juga menjadi ruang kolaborasi berbagai unsur dalam ekosistem ekonomi kreatif. Gedung tersebut kerap digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pelatihan kewirausahaan, lokakarya kreatif, seminar, hingga pameran seni dan kegiatan komunitas.
Ivan menilai pendekatan kolaboratif tersebut menjadi salah satu faktor keberhasilan Kota Bandung dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif.
“Yang paling penting bukan hanya fasilitasnya, tetapi bagaimana ruang ini hidup dengan berbagai program dan kolaborasi. Ini yang harus disiapkan jika ingin mengembangkan konsep serupa di Jambi,” katanya.
Rencana Pengembangan Creative Hub di Jambi
Usai peninjauan, Ivan menyampaikan komitmennya untuk mendorong pembangunan pusat kreatif serupa di Provinsi Jambi. Salah satu lokasi yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan adalah kawasan Islamic Center Jambi.
Menurut dia, keberadaan creative hub dapat menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda, tempat inkubasi usaha kreatif, serta pusat kegiatan komunitas yang produktif.
Ia menekankan bahwa pengembangan pusat kreatif tidak hanya sebatas pembangunan gedung, tetapi harus disertai program pembinaan, pelatihan, serta kemitraan dengan dunia usaha.
“Kalau hanya membangun gedung tanpa ekosistem, hasilnya tidak akan maksimal. Kita ingin pusat kreatif di Jambi benar-benar menjadi ruang bagi anak muda untuk berkarya dan berinovasi,” ujarnya.
Ivan juga menilai keberadaan creative hub dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas secara positif serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi langkah awal penyusunan rencana pengembangan pusat kreatif di Jambi yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan daerah.
“Targetnya bagaimana ruang publik yang ada bisa lebih produktif, ekonomi kreatif tumbuh, dan anak muda Jambi memiliki ruang untuk mengembangkan karya,” kata Ivan. (Adv)










